"Udah, jangan mikirin itu." Juna langsung menyangkal ucapan istrinya. "Aku serius, Mas. Kalau setelah ini aku sulit punya anak, gimana? Apa kamu akan tetap setia sama aku dan tetap mau hidup sama aku? Aku tahu kamu pasti pengen punya anak kan?" Nada bicara Lili semakin terdengar sendu. Setiap waktu ia dibuat overthinking oleh kondisinya. "Untuk punya anak, kamu tidak perlu melahirkan. Seorang anak tak selamanya lahir dari rahim seorang wanita yang mengurusnya. Banyak anak-anak di luar sana yang membutuhkan orang tua, kita bisa mengambil mereka, yang penting aku terus sama kamu." Juna menggenggam tangan Lili agar istrinya percaya dan semakin merasa kuat, tidak terpuruk terus. "Terima kasih, Mas, kamu sudah mengerti aku dan kamu juga gak egois." Lili mencium punggung tangan Juna, sete

