Liam teringat kembali, “Bahkan di berita pun sempat dispekulasikan kalau dia sedang dalam perjalanan bisnis dan akan bertemu Jelita di Italia.” Juwita menelan ludah. “Dan setelah itu, ada wanita-wanita tak tahu malu yang mencoba menghubunginya, berpura-pura menjadi aku. Padahal aku tidak mati, hanya … hilang. Aku bisa mengerti kenapa dia jadi sebegitunya, bahkan terbelenggu dalam pikirannya. Dia mengira aku salah satu dari mereka yaitu penipu. Tapi sekarang, dia tahu kebenarannya. Aku bukan mereka dan dia bukan korban kebohongan itu.” Liam menatap serius. “Jadi kau benar-benar bertaruh dengan keselamatanmu sendiri? Mengakui bahwa kau adalah Jelita, meski kau bahkan tidak mengingatnya, demi membuat Dikara tenang?” Juwita mengangguk perlahan. “Ya, kurang lebih. Itu sebabnya aku menegask

