“Juwita, aku sungguh senang kau bisa mengingat kembali,” ujar Billy, tulus. “Pasti kau merasa senang karena akhirnya tahu siapa dirimu yang dulu.” “Tidak semua ingatan itu menyenangkan, Billy,” gumamnya. Sebagian besar kenangan masa kecilnya justru menyakitkan. “Terima kasih, Billy. Sampai jumpa.” Ia menutup telepon dan menatap kosong beberapa detik, membiarkan pikirannya mengalir. Kini, Juwita siap menjalankan semua rencana yang telah ia susun. Permainan kecil yang terlintas dipikiran, yakni, permainan yang diwarnai sedikit balas dendam untuk Dikara. Ia akan kembali menjadi sosok istri yang dulu, dimana mampu tersenyum, lembut, dan penuh kasih. Tapi kali ini, semua itu hanyalah bagian dari sandiwara. Ia akan membuat Dikara memahami satu hal bahwa ia tak bisa mendapatkan segalanya hanya

