Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, ocehan anak-anak nyaris tidak pernah berhenti. Mereka mengoceh tanpa jeda, saling menyela, tertawa, lalu kembali berbicara tentang apa saja yang mereka alami hari itu. Antusiasme mereka tampak berapi-api, seolah setiap jengkal cerita terlalu berharga jika dipendam sendirian. Juwita mendengarkan celotehan itu sambil sesekali tersenyum, membiarkan kebahagiaan mengalir bebas diantara mereka. Begitu tiba di rumah dan pintu tertutup rapat, kedua bocah itu langsung berlari tergesa-gesa. Tanpa perlu diarahkan, mereka langsung meraih ponsel dan mulai sibuk mengirimkan pesan pada Dikara. Jemari kecil mereka meliuk-liuk diatas layar, wajah mereka tampak berseri. Juwita memperhatikannya dari kejauhan, lalu menggelengkan kepala. Bukan karena kesal, melainkan

