Saat Dikara terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia sadari adalah notifikasi di ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama sekali tidak dikenal. Dahinya langsung mengkerut ketika menatap layar tersebut. Tidak banyak yang tahu nomor ponsel pribadinya. Ia sangat selektif memberikan nomor ponsel pribadinya pada setiap orang, apalagi kepada orang asing yang tidak dikenal atau tidak ia sukai. Ia mengabaikan pesan tersebut dan meletakkan kembali ponselnya. Perhatiannya kemudian beralih pada email yang sudah menunggu. Dikara menggeliat pelan. Terkadang hidupnya terasa sempit dan dipenuhi oleh banyak pekerjaan. Matahari bahkan belum menampakkan wujudnya, tetapi tuntutan pekerjaan sudah berada di depan mata, bahkan tanpa jeda. Ia membuka email tersebut dan melihat bahwa pengirimnya

