Kayla berdiri, menatapnya sebentar sebelum melangkah dan memeluknya erat. “Aku merindukanmu. Anakku itu memang bodoh. Aku tahu kau tidak ingat, tapi aku sudah memperingatkanmu dulu. Kalau dia itu pria sombong yang merasa bisa melakukan apa pun sesukanya.” Kayla menatapnya penuh emosi. “Aku lega kau masih hidup. Dan kau baik-baik saja.” Juwita mengangguk pelan. “Benar.” “Apakah kau mengingat sesuatu?” tanya Kayla hati-hati. “Sedikit,” jawabnya jujur. “Aku tahu letak semua yang ada di rumah ini.” Kemudian, ia tersenyum tipis. “Aku baru saja menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Kalian sudah makan?” “Kami akan beres-beres dulu, lalu membantu,” ucap Kayla. Juwita pun disambut oleh seluruh keluarga—bahkan keponakan-keponakan yang memanggil namanya dengan canggung tapi penuh ketulusan.

