“Kalau begitu ajak saja dia berkencan,” kata Kayla, enteng sambil menepuk lengan putranya. “Tidak ada salahnya. Ya, sepahit-pahitnya sih paling dia menolak.” “…” Dikara mengernyit. “Jangan tunda-tunda lagi. Biarkan terlihat seperti ide dadakan. Atau, kau bisa beralasan kalau pacarmu membatalkannya.” “Aku tidak berpacaran selama enam bulan,” jawab Dikara. “…” “Dan bagaimana aku menjelaskan pada orang-orang tentang keberadaan Juwita disampingku? Setelah apa yang terjadi.” Bahkan, pertanyaan itu tidak bisa ia jawab sendiri. Ia bisa saja mengatakan kalau Juwita adalah Jelita, tetapi itu hanya akan menimbulkan pertanyaan baru. Setelah semua kekacauan yang terjadi, kenapa wanita itu masih ada di sisinya? Dikara mengusap wajah, menarik napas panjang. Semuanya terasa begitu rumit. Orang-or

