Juwita menatap pantulan dirinya di cermin dan menghela napas. Rambutnya kusut, gaunnya kusut tidak rapi, dan ia tahu tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk merapikan diri. Ia membuka lemari, mencari sisir, lalu berhenti ketika matanya tertuju pada sebotol parfum yang dulu selalu digunakan. Ia menggelengkan kepala pelan dan membiarkannya tetap di sana. Entah bagaimana mungkin parfum itu masih tersimpan di kamar ini. Ia menyisir rambut sekadarnya sebelum melangkah menuju ruang makan. Kayla dan Malik sudah duduk di meja bersama Zayn dan Zayyan. Sementara Dikara berada di dapur. “Mau kopi?” tanya Dikara sambil menoleh. “Hmmm,” Juwita mengangguk pelan. Ia melihat Dikara tersenyum padanya. “Apa?” ketus Juwita.. “Masih belum bisa bangun pagi?” ujar Dikara seraya terkekeh pelan dan meminta

