Juwita masih masih mencerna semua informasi yang ada ketika ia membaca artikel itu. Ia berulang kali membacanya di ponsel, termasuk seluruh komentar dan kritik yang ada disana. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Lisa. “Aku baca berita soal dirimu dan Dikara,” ucap Lisa ketika tersambung. Suaranya pelan, nyaris berbisik. “Dan … kenapa bisa pria itu mengajakmu ke apartemen?” Juwita menghela napas sebelum akhirnya menjawab. “Aku tidak tahu. Yang ku ingat sekelebat adalah … aku menamparnya, meneriakinya, memarahi, lalu menuruni tangga dari lantai dua puluh. Kaki ku pun bengkak. dan dia ternyata sudah menungguku di bawah.” Lisa terdiam sejenak, mencoba menelaah keterangan dari penulisnya. “Baiklah. Tapi, penggemarmu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

