“Pasti Nayla yang sudah mengadu macam-macam ke kamu, Mas Zayn!” tuduh Irana. Nada suaranya meninggi. Penuh emosi. Zayn menatapnya dingin. “Dari mana aku tahu, itu bukan urusanmu.” Suaranya datar. Namun tajam. “Aku tidak suka ada orang yang ikut campur dalam urusanku.” Ia melangkah mendekat. Tatapannya menekan. “Seharusnya… kau tahu posisimu.” Tanpa menunggu jawaban, Zayn langsung berbalik. Melangkah menuju pintu. Tidak ingin mendengar apa pun lagi. “Mas Zayn!” Irana panik. Ia berlari mengejar. Lalu menarik pergelangan tangan Zayn. Menahan langkahnya. “Mas Zayn, aku hanya takut…” Suaranya berubah. Lebih lembut. Namun tetap penuh kepentingan. “…keberadaannya akan menyakiti Mas lagi.” Zayn diam. Tidak menoleh. “Mas sudah lupa… apa yang dia lakukan waktu Mas kecelaka

