Irana melangkah masuk ruangan eksekutif dengan dagu terangkat, sepatu hak tingginya beradu pelan dengan lantai marmer lobi Mahendra Grup. Tatapannya berkeliling, menilai-bukan mengagumi. Semua tampak biasa saja di matanya, kecuali satu sosok di balik meja sekretaris. Veronika. Setelah mengantarnya sampai depan ruangan Zayn, Veronika pun memilih duduk di kursi kerjanya. Begitu mata mereka bertemu, Irana langsung menangkap sesuatu yang membuat bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum, lebih mirip ejekan yang dibungkus keanggunan. Ia berjalan mendekat, meletakkan tas mahalnya di meja Veronika tanpa izin. “Kamu sekretaris Zayn, ya?” tanyanya, suaranya lembut tapi nadanya tinggi, seolah sedang berbicara pada bawahan. Veronika mengangguk sopan. “Iya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Irana

