“Kita akan ke kota mana, Nay? Kamu sudah yakin?” Suara Astuti terdengar pelan. Namun ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. Nayla yang sedang melipat beberapa pakaian berhenti sejenak. Lalu menjawab tanpa menoleh. “Aku sudah hubungi Rita, Bu.” Tangannya kembali bergerak. “Sudah tanya-tanya tentang kota tempat tinggalnya.” “Rita bilang dia bisa bantu kita cari tempat tinggal di sana.” Astuti mengangguk pelan. “Syukurlah… setidaknya ada orang yang kita kenal.” Namun senyum itu tidak bertahan lama. Karena mereka sama-sama tahu… kepergian ini bukan sepenuhnya pilihan. Melainkan… sesuatu yang dipaksakan keadaan. Nayla menutup koper itu perlahan. Tatapannya kosong sesaat. “Aku mau berangkat hari ini, Bu.” Astuti langsung menoleh. “Secepat itu, Nay?” Nayla mengangguk

