34. Pengorbanan yang Tidak Pernah Diakui

1345 Words

Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di mulut gang sempit. Aspal mulus berganti jalanan yang retak dan lembap, diapit rumah-rumah kecil yang berhimpitan. Warni menatap ke depan tanpa ekspresi, namun rahangnya mengeras. “Maaf, Nyonya. Tidak bisa masuk ke dalam,” ujar sang sopir dengan nada sungkan. “Gang-nya terlalu sempit.” Warni mendengus pelan. Tangannya mencengkeram tas mahal di pangkuannya, seolah takut benda itu ikut tercemar oleh lingkungan di sekitarnya. “Perlu saya temani, Nyonya?” tanya sang sopir lagi. Ia ragu membiarkan majikannya berjalan sendiri di tempat asing seperti itu. “Tidak perlu,” potong Warni cepat. Suaranya dingin dan tegas. “Tunggu saja di sini.” Tanpa menunggu jawaban, Warni membuka pintu mobil. Tumit sepatunya menyentuh tanah dengan enggan. Ia melangkah ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD