36. Aku Pergi Bukan Karena Tak Cinta

1221 Words

Astuti menatap wajah Nayla dengan seksama begitu ia tiba di rumah. Tatapannya tidak biasa, terlihat cemas untuk disebut wajar. “Ada yang datang, ya?” tanyanya tiba-tiba. Nayla terkejut. Tangannya yang hendak menutup pintu terhenti sejenak. “Eh… Ibu kok tahu?” tanyanya refleks. Astuti meletakkan tas belanja kecil di atas meja, lalu duduk perlahan. Raut wajahnya terlihat tegang, berbeda dari biasanya. “Ibu sempat bertemu di ujung gang,” ujarnya pelan. “Ada mobil bagus berhenti cukup lama di depan sini. Awalnya Ibu pikir cuma orang tersesat. Tapi saat Ibu mau memanggil Rian… Ibu melihat perempuan itu.” Nayla menelan ludah. Dadanya terasa sesak. “Ibu… melihatnya?” suaranya hampir tidak terdengar. Astuti mengangguk. “Wajahnya memang tidak terlalu jelas. Tapi dari caranya berdiri, dari p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD