Pram berdiri di dekat mobilnya ketika melihat Rita datang seorang diri. Alisnya langsung berkerut. “Kok sendirian?” tanyanya spontan. “Nayla mana?” Rita menghentikan langkah. “Nayla sedang sakit. Hari ini dia berhalangan datang.” Wajah Pram berubah jelas, bukan sekadar terkejut, tapi khawatir. “Sakit?” ulangnya. “Parah? Sakit apa? Kemarin malam sepertinya dia masih baik-baik saja.” Rita menatapnya curiga. “Kemarin malam?” nadanya meninggi sedikit karena rasa curiga. Pram tersadar akan ucapannya sendiri. Ia segera menjelaskan, agar tidak menimbulkan salah paham. “Oh, maksudku, aku bertemu Nayla dan Rian di taman ini kemaren malam,” ujarnya cepat. “Nayla sering membawa anaknya main ayunan di sana. Jadi kemarin malam aku kebetulan ada di taman.” Rita terdiam sejenak, lalu mengangguk

