Bitha mendesah pelan ketika terbangun dari tidurnya karena merasa terhimpit beban berat. Tubuhnya seperti sedang dibelit, dikunci, disandera, pokoknya tidak bisa bergerak leluasa. Hanya hembusan nafas Ervin yang sangat teratur terasa di belakang telinganya, tidak ada dengkuran. Kamar mereka masih gelap. Entah sudah berapa jam dia tidur, Bitha tidak tahu. Tidak ada bunyi apa-apa di sini kecuali deru ombak di luar sana. Bitha mencoba bergerak, tapi dengan posesifnya Ervin malah mempererat dekapannya, padahal mungkin dia sedang tidak sadar melakukan itu karena dia tidur dengan lelapnya. Bitha menyerah dijadikan guling oleh Ervin. Berat yang harus ditanggungnya memang di area paha saja karena kaki Ervin ada di atas paha kirinya, tidak seperti semalam. Mengingat itu membuat wajah Bitha menega

