"Siapa?" tanya Leah sambil sedikit memiringkan kepalanya, matanya belum lepas dari layar ponselnya sendiri ketika ia mendengar suara decakan kesal dari sampingnya. "Siapa lagi kalau bukan keponakan kamu," jawab Demian datar, tapi penuh emosi yang ditahan. Suaranya terdengar kesal namun tetap terdengar manja, seperti anak kecil yang mengadu karena rebutan mainan. Leah langsung tahu siapa yang dimaksud. Dari sekian banyak keponakannya, hanya satu orang yang bisa membuat Demian bersikap seperti itu, Shaka. "Kenapa lagi abang? Pasti aneh - aneh lagi," tanya Leah sambil mematikan ponselnya dan meletakkannya di nakas. Ia lalu berbalik memeluk lengan Demian dan menyandarkan kepalanya di d**a suaminya itu. Keheningan kamar, cahaya lampu tidur yang redup, dan suhu sejuk dari pendingin ruangan me

