Milan Café siang itu tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan wangi croissant mentega yang baru keluar dari oven, menciptakan suasana hangat yang nyaman. Di pojok ruangan, sebuah meja besar telah dipesan atas nama Mama Ana. Ia sudah datang lebih dulu bersama Tante Priska, Tante Sarah, dan Anya. Mereka semua tampak anggun dengan pakaian semi-formal, namun tetap terlihat santai. "Ini mejanya ya, Yangti?" tanya Anya sambil memandangi ruangan yang didominasi warna kayu dan lampu gantung temaram. "Iya, kita duduk di sini aja. Dekat jendela, biar terang dan adem," jawab Mama Ana. Mereka memang sudah disiapkan ruang vip, mama ana yang memesannya. Baru saja mereka duduk dan mulai membuka menu, pintu ruangan mereka terbuka. Masuklah Mama Ruri bersama Tante D

