Perang Sunyi.

1152 Words

Hujan tipis menggerimis di luar jendela gedung kosong sebelah proyek pembangunan milik Alfaruq Group. Lantai berderit, lampu remang, dan aroma alkohol menyatu dalam atmosfer gelap yang mencurigakan. Tempat itu jauh dari kesan profesional, namun sore itu, Dirga justru tampak duduk nyaman di sudut ruangan bersama seorang perempuan bermata tajam. "Kukira kita sudah terlalu tua untuk bermain pekerjaan kotor seperti ini," ucap Dirga sambil menyalakan rokok. Asap mengepul perlahan, membentuk pola-pola samar yang langsung larut oleh embusan kipas angin berdebu. Dhira duduk di seberangnya, menyilangkan kaki dan menyentuh bibir gelas wine dengan jari. "Tapi kita belum terlalu tua untuk balas dendam." Mereka saling berpandangan. Tidak ada senyum. Hanya rasa puas yang muncul dari sudut bibir kedua

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD