Malam yang Mendebarkan.

1170 Words

Andini berdiri mematung di ambang pintu. Jemarinya masih menggenggam tas pemberian Hannan yang dia bawa kemana–mana, tapi pikirannya belum juga kembali dari perjalanan yang dia tempuh siang tadi sebagai usaha menghindar dari ayahnya Lingga. Kepala Andini penuh sesak. Bukan karena letih, melainkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat terjawab sejak keluar dari kompleks perumahan tempat Dirga dulu tinggal. Semuanya bercampur dalam benaknya—kenangan, penyesalan, dan sorotan tajam mata Hannan saat berdiri di persidangan membelanya habis-habisan. "Untuk apa repot-repot bilang akan melindungiku sampai akhir? Dia mungkin sudah tidak ingat lagi dengan janjinya hari itu," gumam Andini dalam hati—menggerutu tiasa henti. Dengan gerakan pelan Andini menutup pintu, berusaha tak mengganggu suas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD