Adnan pulang pada pagi harinya dari Rumah Sakit, dia berencana akan pergi ke panti asuhan untuk menyerahkan dokumen pernikahan milik Syila. "Masih ingat pulang kamu, Mas?" sambut Diya ketika Adnan baru saja masuk. Wajahnya sudah masam begitu melihat kedatangan suaminya dari luar. Adnan menghela napas lelah. Dia letih, pusing dan kurang tidur. Bolak-balik ke Rumah Sakit untuk menunggui Mira memang melelahkan, tapi mau bagaimana lagi! "Kenapa?" tanya Adnan seraya duduk di kursi dengan lega. Rasanya tubuhnya begitu senang merasakan sofa empuk yang seharian kemarin tak dijumpainya. Diya mendengus. "Nggak fokus kerja apa gimana? Apa kabar perusahan orangtuaku kalau kamu kerjanya aja kayak gini!" protesnya keras. Adnan sekali lagi menghela napas, mencoba untuk tidak emosi dengan omelan Diya

