For an Amazing Woman

2144 Words

Robin bergeming di tempat dalam waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya, ia pergi ke ruangan dimana Dokter Andreas berada. "Silahkan duduk Tuan Robin," ucap dokter Andreas, tatkala Robin baru saja memasuki ruangannya. Robin menjatuhkan bagian belakang tubuhnya pada kursi dan menatap dokter Andreas dengan cukup serius. "Apa ada yang bisa saya bantu? Oh iya, sebelumnya, selamat atas kelahiran cucu pertamanya Tuan Robin." "Iya. Terima kasih, dok. Em, sebetulnya, saya ke sini ingin menanyakan hal yang cukup penting." "Apa itu Tuan?" tanya dokter Andreas sambil membetulkan letak kacamatanya dan menatap Robin dengan cukup serius. "Saya seperti melihat Senna tadi. Apa mungkin saya berhalusinasi?? Bukankah, dia ingin dikremasi atas permintaannya? Saya pun tidak tega dan tidak sempat melihat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD