5

1145 Words
Lintang turun dari mobil dengan langkah yang masih terasa berat, meski hatinya sedikit lebih ringan berkat "obat" dari sang Ayah. Ia menenteng kantong tepung itu dan berjalan mendekat. Kalinda, yang sedang berdiri di teras depan sambil mengelap sisa air di meja kayu, menghentikan aktivitasnya. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan yang kontras: suaminya yang keluar dari mobil dengan wajah teduh, dan putri sulungnya yang berjalan dengan bibir mecucu—mengerucut—lima sentimeter ke depan. Bramasta melangkah mendekati istrinya, memberikan senyum tipis yang penuh pengertian sebelum mendaratkan satu kecupan hangat di pelipis Kalinda. Gestur kasih sayang yang sudah menjadi pemandangan sehari-hari di rumah itu. "Kenapa lagi itu si Mbak, Yah? Berangkat jalan kaki semangat, pulangnya kok malah ditekuk gitu mukanya?" tanya Kalinda pelan, suaranya mengandung nada geli sekaligus khawatir. Bramasta hanya terkekeh kecil sambil mengusap pundak istrinya. "Biasa, Bun. Tadi 'disapa' Bu Ida di gang belakang. Kamu tahu sendiri kan radarnya Bu Ida kalau lihat anak gadis di rumah saja." Kalinda mengembuskan napas panjang, langsung paham tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. "Oalah... Bu Ida lagi. Ya sudah, nanti Ibun yang kasih pengertian." "Mbak Lintang ndak ikhlas tok disuluh Ibun kok mecucu aja!" Celetukan cempreng itu datang dari arah ruang tengah. Linggar, si bungsu yang gembul, berdiri di ambang pintu sambil memegang es mambo yang mulai mencair di tangannya. Ia menatap kakaknya dengan mata bulat yang penuh kilat jahil. "Mbak Lintang kalau disuluh malah-malah, kayak laksasa!" lanjut Linggar sambil tertawa mengejek, sengaja memancing keributan yang sebenarnya tak perlu. Lintang yang baru saja mau masuk ke rumah, langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah adiknya dengan mata melotot. "Linggar! Siapa yang marah-marah? Mbak itu capek, panas! Kamu kecil-kecil kok sudah pintar ngarang ya?" "Lha itu... bibilnya panjang banget kayak bebek!" Linggar menjulurkan lidahnya, lalu lari bersembunyi di belakang daster Kalinda. "Ibuuun, Mbak Lintang mau gigit!" "Mbak, sudah... adiknya jangan diladeni," tegur Kalinda sambil menahan tawa melihat interaksi kedua anaknya. "Sini tepungnya, sudah ditungguin pisang rajanya dari tadi." Lintang menyerahkan plastik tepung itu ke tangan Ibunya dengan sedikit sentakan manja. "Ibun, kasih tahu Linggar ya, kalau dia nggak berhenti godain aku, jatah es krimnya besok Mbak hapus dari anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga!" "Waduh, ancamannya kayak gitu Dek, gimana itu," goda Bramasta sambil berjongkok untuk menggendong tubuh gembul Linggar. "Sudah, sana ganti baju. Mandi biar seger. Nanti makan pisang goreng anget-anget buatan Ibun." titahnya beralih ke sang putri. Lintang hanya bisa mendengus pelan, meski sudut bibirnya mulai berkhianat ingin tersenyum. Di rumah ini, sekejam apa pun dunia luar menghakimi status "penganggurannya", ia selalu punya tempat untuk pulang. --- Lintang berdiri di depan cermin tinggi di kamarnya, memiringkan tubuh sedikit ke kanan, lalu ke kiri. Outfit sore itu sederhana, tapi tetap rapi—kemeja oversize warna beige yang dibiarkan terbuka, inner putih yang pas di badan, celana pendek hitam, dan sneakers putih yang bersih. Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit bergelombang alami. Make up tipis—cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar tanpa terlihat berusaha terlalu keras. Ia menyipitkan mata pada pantulan dirinya sendiri. “Lumayan,” gumamnya pelan. “Kalau ketemu orang ganteng pun masih layak dilihat.” Tangannya meraih tas kecil di atas meja, memasukkan ponsel dan dompet. Jempolnya sempat berhenti di layar—chat dari sahabatnya sudah masuk sejak lima menit lalu. “Cepetan! Aku udah nunggu dari tadi!” Lintang mendengus kecil. “Iya, cerewet.” Baru saja ia hendak melangkah keluar kamar— “Lintaaang!” Suara Ibun menggema dari bawah. Langkahnya langsung terhenti. “Aduh…” ia memejamkan mata sebentar. “Kalau sudah dipanggil pakai nada begitu… pasti ada maunya.” Dengan langkah malas, Lintang turun tangga. Kalinda sudah berdiri di dapur, memegang dua kotak makanan yang masih hangat. Aroma pisang goreng dan roti manis langsung menyeruak, menggoda indra penciuman. “Ini,” ujar Kalinda sambil menyodorkan kotak itu. “Tolong antarkan ke rumah sebelah.” Lintang langsung mengernyit. “Rumah sebelah?” ulangnya, memastikan. "Iya. Tetangga baru itu. Kasih sambutan dikit, masa kita diem aja. Ndak pantes, Mbak," sahut Kalinda santai. Lintang menatap kotak di tangan ibunya dengan ekspresi datar. "Ibun… kenapa harus aku?" "Ya karena kamu yang lagi mau keluar. Sekalian, daripada bolak-balik." Lintang baru saja mau membuka mulut untuk protes, tapi suara kecil dari arah ruang tamu mendahuluinya. "Aku juga mau ikut!" Linggar muncul dengan pipi gembulnya yang bergoyang saat berlari. "Aku mau ikut Mbak Lintang!" "Nggak. Kamu di rumah aja," tolak Lintang cepat. "Gak mau! Mau ikut!" Linggar mulai merengek, menarik-narik kemeja krem Lintang sampai sedikit kusut. "Linggar… Mbak mau pergi, bukan jalan-jalan sama kamu. Jangan rewel dong," Lintang mulai kehilangan kesabaran. Namun, bibir Linggar sudah maju lima senti, matanya mulai berkaca-kaca siap meledak. Untungnya, Bramasta muncul menengahi. "Sudah, sini sama Ayah aja," ujarnya sambil mengangkat tubuh gembul Linggar ke dalam gendongan. "Ayah temenin main robot-robotan, ya? Mbak Lintang lagi ada urusan." Linggar masih cemberut, tapi pelukan ayahnya cukup meredam rasa jengkelnya. Lintang mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Yah," gumamnya. Namun, tatapan Bramasta kini beralih ke Lintang. Menatap putri sulungnya dari atas sampai bawah dengan alis terangkat. "Mau ke mana, Mbak?" Lintang langsung salah tingkah. "Ke… rumah Dira, Yah. Ada urusan sedikit." "Pulangnya jangan malam-malam Mbak," ujar Bram singkat tapi tegas. Lintang hanya bisa mengangguk patuh sambil menerima kotak makanan dari Kalinda dengan ekspresi pasrah. "Ini harus sekarang, Bun?" tanyanya sekali lagi, berharap Kalinda berubah pikiran. "Sekarang, Mbak. Wis ndang berangkat sana." Dengan langkah berat, Lintang keluar rumah. Sore ini udara sedikit lebih sejuk. Matanya melirik ke arah rumah sebelah yang terlihat tenang—terlalu misterius. Berjalan ke rumah dengan suasana yang tenang itu. Lintang berdiri di depan pintu rumah mewah berpagar tinggi itu, menatap bel di sampingnya. "Kenapa jadi deg-degan sih…" bisiknya. Ia menggeleng cepat. "Biasa aja, Lintang. Cuma nganter makanan, bukan nganter lamaran." Jari telunjuknya akhirnya menekan bel. —Ting tong! Satu detik... dua detik... Klik. Pintu besar di hadapannya perlahan terbuka. Lintang sudah memasang senyum formal yang paling manis yang ia punya. Namun, begitu sosok di balik pintu itu muncul sepenuhnya, senyum Lintang langsung membeku. Matanya membelalak lebar, hampir copot dari tempatnya. Pria itu berdiri di sana. Tubuh tinggi besar yang dibalut kemeja linen krem—warna yang nyaris senada dengan kemeja yang dipakai Lintang sore ini. Wajah blasteran itu masih sama kaku dan dinginnya dengan yang tadi pagi. "You?!" Lintang memekik pelan, suaranya naik satu oktav. "Loh, kok sampeyan yang di sini?" Dewa—pria yang tadi pagi membuat noda saus di kaos putih Lintang—hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Lintang dari ujung rambut sampai ke kaki jenjangnya yang terbalut celana pendek, lalu matanya jatuh pada kotak makanan di tangan Lintang. Senyum sinis terulas tipis di sudut bibir Dewa. Dewa dengan suara berat yang terdengar sangat menjengkelkan. "Ada apa? Mau menagih ganti rugi kaos lagi?" Lintang mendengus keras. "Duh, jiamput! Jadi beneran you tetangga barunya? Sial banget nasibku hari ini!" gumam Lintang tanpa filter, membuat Dewa hanya bisa menatapnya dengan pandangan kaku tak tersentuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD