Ting! Suara notifikasi ponsel memecah keheningan ruang tamu. Byantara yang sejak tadi duduk gelisah langsung meraih ponselnya, seolah nalurinya sudah lebih dulu mengenali siapa pengirimnya. Begitu nama Meylin muncul di layar, jantungnya seperti berhenti berdetak. Dengan tangan sedikit bergetar, Byantara membuka pesan itu. Matanya bergerak cepat membaca setiap baris, lalu berhenti. Sekejap saja, warna wajahnya memucat. Tubuhnya melemah, seolah seluruh tenaga tersedot habis. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. “Byan…?” Risma yang sejak tadi memperhatikannya langsung berdiri. Wajah sang ibu berubah cemas melihat putranya yang mendadak seperti kehilangan kesadaran. “Ada apa?” tanyanya lagi, suaranya mulai bergetar. Byantara tidak menjawab. Dadanya terasa sesak, napasnya bera

