19. Suara yang menahan pulang

1361 Words

Sementara itu, di rumah yang kini mulai terasa sepi tanpa suara mesin mobil Byantara, Meylin berdiri di depan jendela besar ruang tengah. Angin pagi dari dataran tinggi meniup lembut gorden putih, menyentuh kulitnya yang pucat. Setelah membersihkan dapur dan memastikan para pekerja taman sudah mulai bekerja, ia melangkah ke kamar yang baru disiapkannya, kamar yang tadi pagi ia minta pada Byantara untuk dijadikan studio kecil. Di tengah ruangan, sudah terpasang sebuah kanvas putih berukuran sedang. Cahaya matahari menembus tirai tipis, menerangi wajahnya yang penuh ketenangan. Di tangannya ada kuas, sementara di sudut meja, terletak foto kecil Byantara yang ia ambil diam-diam dari album keluarga ibu mertuanya. Ia menatap foto itu lama, lalu tersenyum lembut. “Mas Byan… sepertinya aku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD