“Kau jangan melakukan hal bodoh, Wi. Aku akan ke tempatmu sebentar lagi.” Dengan rasa tanggung jawab yang menghimpit d**a, Byantara terpaksa mengucapkan janji itu. Napasnya terhela panjang, berat, lelah dan terpaksa. “Kamu jangan bohong ya. Aku tunggu kamu!” Nada Dewi terdengar menuntut, tidak sedikit pun memikirkan bahwa Byantara baru pulang dari perjalanan panjang dan sudah kelelahan secara fisik maupun batin. Telepon ditutup. Byantara hanya memejamkan mata sejenak, mencoba menguatkan dirinya. Setelah mandi dan menyiapkan baju kerjanya untuk besok, ia keluar dari kamar. Namun Meylin tidak terlihat di mana pun. Mau tidak mau, Byantara mencarinya. Langkahnya terhenti begitu melihat cahaya samar keluar dari kamar yang Meylin jadikan studio. Saat ia mendekat dan menengok ke dalam, pem

