Pagi itu rumah kembali dipenuhi aroma hangat. Bukan hanya dari kopi yang baru diseduh atau roti yang dipanaskan perlahan, tapi dari hati Meylin sendiri. Ia berdiri di dapur dengan senyum kecil yang tidak ia sadari. Tangannya cekatan menyiapkan sarapan sederhana, telur, sup ringan, dan buah segar. Dulu, semua itu ia lakukan dengan hati-hati, penuh perhitungan, berharap perhatian kecilnya bisa membuka jarak di antara mereka. Dulu, ia memasak karena kewajiban. Kini berbeda. Kini ia melakukannya karena ingin dan rasa cinta. Cinta yang membuat dia selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang dikasihinya. Meylin bahkan tersenyum sendiri, merasa hangat tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Tubuhnya tersentak kecil, lalu langsung me

