71. Hadiah yang Tak Bisa Dibeli

1167 Words

Tidak lama kemudian, mobil Byantara memasuki halaman mansion Risma. Rumah besar itu berdiri anggun di balik pepohonan rindang, lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat yang menyambut siapa pun yang datang. Begitu mobil berhenti, pintu utama sudah terbuka. Risma tampak berdiri di ambang pintu, senyum lebarnya langsung mengembang begitu melihat anak dan menantunya turun dari mobil. “Byan… Meylin,” panggilnya dengan nada penuh rindu. Byantara melangkah lebih dulu, diikuti Meylin yang tersenyum sopan. Risma tidak menunggu lama, ia langsung memeluk anaknya, lalu meraih tangan Meylin dan memeluknya dengan hangat. “Kalian akhirnya sampai,” ujar Risma bahagia. “Ibu sudah menunggu dari tadi.” “Maaf kalau kami agak sore, Bu,” kata Meylin lembut. “Ah, tidak apa-

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD