Hari itu berjalan pelan dan cerah. Meylin berjalan di samping Ibunya-Sarah, menyusuri trotoar kecil yang dipenuhi pepohonan. Mereka berhenti di kios bunga, mencium aroma segar, lalu tertawa kecil saat penjual menawarkan pot dengan bentuk lucu. “Yang ini cocok ditaruh di teras,” kata Ibu Sarah sambil menunjuk tanaman berdaun hijau mengilap. Meylin mengangguk. “Mas Byan pasti suka. Katanya tanaman yang begini gampang dirawat.” Mereka masuk ke kafe sederhana. Tidak ramai, tidak mewah. Hanya suara sendok beradu pelan dan musik lembut. Meylin menuangkan teh untuk ibunya, lalu duduk berhadapan. “Kamu kelihatan lebih tenang,” ujar Ibu Sarah tiba-tiba. Meylin tersenyum. “Entah kenapa, Bu. Rasanya… seperti sedang pulang.” Ibu Sarah menatap putrinya lama, lalu tersenyum puas. “Kalau begitu, j

