Pagi datang ditandai cahaya yang masuk lewat cela jendela, Meylin terbangun perlahan, masih setengah mengantuk. Refleks, tangannya bergerak ke sisi ranjang, kosong. Byantara sudah tidak ada di sampingnya. Ia menarik napas lega, tanpa benar-benar tahu mengapa. Dulu, ia sering membayangkan kehidupan normal seperti pasangan suami istri lain, tidur di kamar dan kasur yang sama, bangun bersama. Namun ketika akhirnya menjalaninya, jantungnya justru berdebar, seolah belum siap sepenuhnya. Sepertinya kejadian malam itu mempengaruhinya, walaupun dia sudah berusaha mengusir jauh bayangan itu. Bayangan semalam terlintas singkat. Keheningan yang terasa berbeda. Kehadiran Byantara yang lebih nyata. Dan entah kenapa, muncul pertanyaan kecil di benaknya, apakah Mas Byan bersikap seperti itu hanya ka

