Meylin menatap dokter, hening sejenak mengisi ruangan. Byantara memandang Meylin dengan campuran kegembiraan dan haru yang luar biasa. Ia menahan napas, hampir tidak percaya mendengar kata-kata itu. “Artinya… kita akan punya… anak?” suara Byantara bergetar, namun Meylin tetap diam, menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca. Dokter mengangguk, “Iya… ini kabar baik. Sang janin sehat, dan semua tanda-tanda kehamilan menunjukkan perkembangan yang normal. Tapi penting untuk menjaga kesehatan ibu Meylin.” Byantara meraih tangan Meylin tanpa ragu, “Mey… ini… ini kabar yang luar biasa. Aku… aku bersyukur, sangat bersyukur.” Meylin menatap tangan mereka yang saling berpegangan, perlahan senyum tipis muncul di bibirnya. “Aku… aku juga bersyukur… meski… masih banyak yang harus kita hadapi,” kat

