Jakarta malam itu kehilangan detak jantungnya. Bagi penghuni biasa, ini hanyalah malam minggu yang normal. Lampu-lampu gedung pencakar langit tetap berkedip, jalanan Sudirman-Thamrin tetap padat merayap, dan pedagang kaki lima tetap menggelar lapak. Namun, di lapisan bawah tanah dunia kekuasaan, badai sedang mengamuk. Rumah Sakit Medika, salah satu institusi kesehatan paling elit di ibu kota, berubah menjadi benteng militer yang terkepung. Tidak ada pasien yang boleh masuk atau keluar tanpa pemeriksaan ketat. Puluhan pria berjas hitam dengan auraa mengintimidasi berjaga di setiap pintu keluar, setiap tangga darurat, dan setiap celah ventilasi yang cukup besar untuk dilewati manusia. Di ruang kendali keamanan (Security Room) di lantai dasar, suasana lebih mencekam daripada kamar mayat.

