Tidak suka Melayaniku?!

1009 Words
Malam telah merambat jauh, menenggelamkan dunia luar dalam sunyi yang mencekam. Di sudut peraduan, Aira duduk mematung. Kedua lengannya melingkar erat mendekap lutut, seolah raga itu adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa baginya. Matanya nyalang menatap kegelapan, namun kosong tanpa jiwa, seakan seluruh harapannya telah tergerus habis oleh pekatnya malam. Dalam keheningan itu, Aira menyadari satu hal dengan kepastian yang menakutkan: hidupnya telah sampai di ujung tanduk. Namun, anehnya, tak ada rasa ingin memberontak. Jika memang nasibnya harus berakhir di tangan Bastian, mungkin itu adalah harga yang pantas. Impas. Bukankah ia yang lebih dulu menghancurkan kehidupan pria itu hingga tak bersisa? Jika Bastian kini datang menuntut bayaran atas kehancuran masa lalunya, Aira tidak memiliki hak untuk merasa dizalimi. Rasa perih mendesak di pelupuk matanya. Dadanya sesak oleh gumpalan tangis yang memaksa ingin keluar. Namun, Aira mengertakkan gigi, menahan napas, dan memaksa cairan bening itu kembali ke dalam. Ia tidak boleh luruh. Ia tahu ia tidak sendirian di ruangan itu. Di sudut langit-langit, sebuah mata lensa tak berkedip tengah mengawasinya. Kamera pengawas itu adalah perpanjangan mata Bastian. Pria itu pasti ada di sana, di balik layar monitor, menanti secelah saja tanda kelemahan darinya. Aira menegakkan punggungnya yang gemetar. Ia tidak akan memberikan kepuasan itu pada Bastian. Jika ia mati malam ini, ia akan menghadapinya dengan mata kering, bukan dengan air mata yang mengemis belas kasihan. *** Bunyi klik pelan dari kunci pintu yang terbuka menyentak kesadaran Aira seketika. Tidak ada waktu untuk mengumpulkan nyawa atau sekadar meregangkan otot yang kaku. Tubuhnya langsung bereaksi bagai prajurit yang mendengar terompet perang. Ia bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan. Setiap gerakan terasa menyiksa; sisa-sisa kelelahan kemarin dan tidur yang jauh dari kata lelap membuat sekujur badannya terasa remuk redam. Sendi-sendinya menjerit protes, menuntut istirahat, namun akal sehat Aira membungkam rasa sakit itu. Ketakutan akan amarah Bastian adalah cambuk yang jauh lebih menyakitkan daripada nyeri fisik mana pun. Tangan-tangannya bergerak cekatan memotong dan mengaduk, memastikan tak ada satupun kesalahan, sekecil apa pun, yang bisa memicu murka sang tuan rumah. Di sudut ruangan yang tak terjamah cahaya lampu, Bastian berdiri mematung. Nafasnya teratur, nyaris tak terdengar, melebur bersama bayang-bayang. Sepasang matanya menatap lekat pada punggung sempit yang kini sibuk di hadapan kompor itu. Punggung yang tampak begitu rapuh, namun memaksakan diri untuk tetap tegak menanggung beban. Ada senyum getir yang samar di bibir Bastian. Pikirannya melayang pada masa lalu wanita itu. Nona muda yang biasa hidup di menara gading, batinnya dingin, kini berakhir menjadi debu di bawah kakinya. Sebuah tragedi yang menyedihkan, sekaligus memuaskan egonya. ** Dua jam telah berlalu, merangkak lambat dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh denting sendok dan piring porselen. Aroma kopi hitam pekat, diracik dengan presisi ketat sesuai selera Bastian, kini menguar memenuhi ruang makan yang mewah namun terasa dingin itu. Aira berdiri tak jauh dari meja makan, kedua tangannya bertaut di depan perut, berusaha menyembunyikan getar kelelahan yang kian hebat mendera tubuhnya. Tak lama berselang, suara langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga. Clara muncul, mengenakan gaun tidur sutra tipis yang panjangnya bahkan tak mencapai pertengahan paha. Rambutnya sengaja dibiarkan sedikit berantakan, dan wajahnya menyiratkan sisa-sisa kantuk yang manja. Tanpa sedikitpun rasa canggung, wanita itu menghampiri Bastian, melingkarkan lengan di leher pria itu dari belakang, dan mendaratkan kecupan basah di pipinya. "Selamat pagi, Sayang," bisik Clara dengan suara serak yang disengaja. Bastian tidak menepis, namun juga tidak membalas dengan antusiasme yang sama. Ia hanya bergumam rendah, menerima afeksi itu dengan sikap dingin yang sudah menjadi wataknya. Aira, yang menyaksikan pemandangan itu tepat di depan matanya, hanya mampu menunduk. Ia menelan ludah yang terasa pahit, memaksa kakinya tetap terpaku di tempat seolah ia hanyalah perabot tak bernyawa di ruangan itu. Dengan cekatan, Aira menuangkan kopi ke cangkir Clara dan menyajikan sarapan ke piring wanita itu. Clara duduk di sisi Bastian, menyilangkan kaki jenjangnya dengan anggun. Keduanya mulai terlibat pembicaraan. Topik yang mereka bahas cukup berat, saham, ekspansi bisnis, dan negosiasi kontrak, menunjukkan bahwa hubungan mereka bukan sekadar romansa, melainkan juga aliansi kekuasaan. Sesekali Clara melontarkan candaan ringan atau tertawa renyah menanggapi ucapan Bastian. Pria itu hanya merespons dengan anggukan singkat atau senyum tipis yang nyaris tak terlihat, namun jelas ia menikmati keberadaan Clara. Aira merasa semakin kerdil. Di hadapan mereka, ia bukan siapa-siapa. Hanya bayangan masa lalu yang kini menjadi pelayan. Clara, yang menyadari ekor mata Bastian sesekali melirik ke arah Aira yang mematung, menyipitkan mata. Ia tahu betul bagaimana cara memantik api dalam sekam. Ia tahu keberadaan Aira saja sudah cukup mengganggu Bastian, dan ia berniat menyiramkan minyak ke dalam bara itu. Setelah menyuapkan sesendok bubur gandum buatan Aira, wajah Clara berubah keruh. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi berdenting yang nyaring. "Astaga," keluh Clara, mendorong piringnya menjauh. "Ini hambar sekali. Apa kau berniat membunuh selera makanku pagi-pagi begini? Atau kau memang sengaja karena tidak suka melayaniku?" Aira tersentak, wajahnya pucat pasi. "Maaf, Nona. Saya sudah mengikuti resep..." "Alasan," potong Bastian datar, namun nada suaranya tajam menusuk. Ia tidak mencicipi makanan Clara, pun tidak bertanya kebenarannya. Bagi Bastian, kesalahan di meja makan adalah mutlak kesalahan pelayan. "Jangan merusak pagi kami dengan ketidakbecusanmu. Pergi dari sini. Siapkan air mandi hangat. Sekarang." Perintah itu terdengar mutlak. Aira mengangguk kaku, tak berani membantah meski hatinya menjerit ketidakadilan. Dengan langkah gemetar, ia meninggalkan ruang makan, membawa serta rasa perih yang kembali mengiris d**a saat mendengar tawa kecil Clara di belakang punggungnya. Aira menaiki tangga menuju lantai dua, masuk ke dalam kamar utama yang menjadi teritori pribadi Bastian, tempat yang dulu pernah menjadi impiannya, namun kini terasa seperti kandang singa. Ia melangkah menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti tepat di sisi tempat tidur besar di tengah ruangan. Napas Aira tercekat. Di sana, seprai satin berwarna gelap itu tampak kusut masai. Bantal-bantal berserakan tak beraturan, dan selimut tebalnya terlempar setengah menjuntai ke lantai. Aroma maskulin Bastian yang bercampur dengan parfum manis milik Clara masih mengambang kuat di udara, sisa dari keintiman yang terjadi sepanjang malam tadi. Pemandangan kasur yang berantakan itu menghantam Aira lebih keras daripada bentakan Bastian, sebuah bukti nyata yang membisikkan betapa ia telah benar-benar tergantikan dan terbuang. Dalam hati Air berkata, ‘wajar’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD