Aira tidak tahu di mana ia berada. Dunia di sekelilingnya masih berputar lambat, ditarik oleh sisa-sisa obat bius yang membelenggu kesadarannya. Namun, ada satu hal yang ia rasakan dengan jelas. Kehangatan. Tubuhnya yang menggigil ketakutan kini tenggelam dalam dekapan yang kokoh dan familiar. Aroma musk bercampur bau besi darah yang samar menguar dari d**a bidang tempat ia menyandarkan pipi. Aira tidak sadar bahwa pria yang memeluknya erat di lantai lift barang yang dingin itu adalah Bastian. Alam bawah sadarnya hanya mengenali rasa aman. "Jangan pergi..." racau Aira lirih, jemarinya yang kurus mencengkeram kemeja Bastian yang robek dan basah oleh keringat. Dia beringsut semakin dalam, mencari perlindungan dari bayang-bayang dokter jahat yang tadi menculiknya. Bastian menunduk, mena

