“Wah, mulai sekarang mulutmu harus pakai rem.” Juna berdecak. Kenapa juga mamanya memilih perempuan ini dari banyaknya perempuan di luar sana. Juna geleng kepala. Mariana membasahi bibir dengan ujung lidahnya. “Baiklah. Maaf. Aku akan coba menahan diri. Aku hanya terlalu senang bertemu Abang. Akhirnya setelah puluhan pria–” “Puluhan?” Mariana menggerakkan kepala turun naik. “Bukan mau sombong ya, Bang. Toh cuma puluhan doang. yang Artis tuh, sampai ratusan yang mau ta’aruf. Apalah yang mau kusombongkan.” “Bukan itu yang membuat saya terkejut.” “Oh, bukan?” Sepasang mata Mariana membesar. "Lalu apa?" “Puluhan laki-laki itu semua menolakmu? Itu berarti sesuatu, Mariana. Ada yang tidak beres dengan dirimu,” kata Juna seraya mengernyit hingga sepasang matanya mengecil. “Bukan. Mereka ti

