Bab 144.-1

703 Words

Dari pada semakin emosi mendengarkan informasi dari Sesa yang tidak berfaedah, Sultan memilih untuk pergi. Tak peduli apa yang akan Sesa laporkan pada mamanya. Sultan benar-benar sudah muak. Sempat terpikir untuk meninggalkan Atmadja saja. Kalau perlu sekalian meninggalkan Jakarta. Sialan memang hidupnya. “Maaf, Pak … kita mau kemana?” tanya pria yang duduk di belakang kemudi. Dari saat keluar rumah, sang majikan hanya bilang ‘jalan saja.’ Tidak ada tujuan pasti. Masa iya dia cuma berputar-putar di jalan raya saja. Seperti pegawai g*ogle map saja. “Kemana?” guman Sultan yang memang tidak punya tujuan selain ke kantor. Sedangkan saat ini ia sedang merasa malas sekali ke kantor gara-gara pikirannya penuh. “Ah, ke kantor polisi saja, Pak.” “Kantor polisi?” “Iya. Kantor polisi.” Sultan men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD