Sultan tersenyum kala tatapan matanya kembali bertemu dengan sepasang netra Ahmad. “Saya minta maaf karena selama ini tidak pernah mengunjungi Pakde.” “Tidak … apa-apa. Kamu … pasti sibuk.” Napasnya masih kadang tersendat saat bicara. Oleh karena itu Ahmad harus pelan-pelan saat berbicara. “Terima kasih pengertiannya, tapi, tetap saja. Seharusnya saya datang mengunjungi Pakde.” Sultan menatap penuh penyesalan pria yang tidak lain adalah pakde istrinya itu. “Karena pakde istri saya juga pakde saya. Seharusnya saya bertanggung jawab pada Pakde. Saya benar-benar bersalah pada Pakde, juga pada Kansa. Saya … minta maaf, Pakde.” “Kansa … kamu … sudah bertemu … Kansa?” Hampir saja kedua mata Sultan melotot, jika ia tidak segera menahan diri untuk tidak memperlihatkan gelagat terkejut. Sulta

