Marita langsung berbalik dan dengan tangan bergetar—wanita itu menarik paksa dua kakinya. Secepat dan selebar mungkin agar ia bisa segera menjauh. Habis sudah, batin Marita antara marah dan juga takut. Marita marah pada orang yang ia bayar mahal, namun ternyata tidak bisa bekerja dengan baik. Dan dia takut karena paham sifat papa mertuanya. Dia sudah berbohong dan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal. “Papa bisa menerima anak pembantu, tapi, tidak dengan pembunuh.” Itu adalah kalimat peringatan yang suaminya katakan. Marita meremas telapak tangan yang kembali bergetar. Tidak. Dia bukan pembunuh. Dia tidak memerintahkan detektif itu untuk membunuh. Dia hanya meminta menyembunyikan anak itu sementara waktu, agar tidak bertemu dengan Sultan atau papa mertuanya. Sementara itu, ia ak

