**** Di rumah sakit, Kansa mendesah kecewa karena tidak bisa terhubung dengan Mariana. Akhirnya wanita itu menurunkan ponsel. Menggenggam erat benda penghubungnya tersebut. Apa dia harus mencoba menghubungi Marita? Kansa memutar kepala—memperhatikan ke arah pintu ruang rawat yang masih tertutup. Tidak. Dia belum siap menghubungi nomor Marita. Dia belum bisa memaafkan apa yang sudah Marita lakukan pada putranya. Sekalipun mulut berucap memaafkan, namun hati tidak semudah itu untuk benar-benar memaafkan. Menggeser pandangan mata, Kansa melihat tiga orang yang dduk di bangku panjang di depan ruang rawat pakdenya sedang berbincang. Wanita itu mendesah lalu menarik punggung ke belakang. Wanita itu menungu sampai kemudian terdengar suara pintu dibuka. Kansa langsung saja berjalan ke arah pin

