“Maaf, Pak. Saya masih ada pekerjaan lain. Kalau benar itu istri anda, silahkan anda langsung telepon saja. Kenapa repot? Atau jangan-jangan … anda punya niat buruk pada perempuan yang kepalanya ditutup kain itu, ya?” “Benar begitu?” “Bukan … bukan.” Sultan mengumpat dalam hati. Sulit sekali perempuan ini dimintai keterangan. “Kalau bukan, silahkan pergi. Masih ada tamu lain yang harus saya layani.” Setelah mengusir Sultan, wanita itu menggeser pandangan matanya, lalu tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Sultan mendesah. Pria itu akhirnya memutar tubuh lalu mengayun kaki menjauh dari meja resepsionis. Tarikan napas panjang pria itu lakukan. Apa mungkin perempuan itu hanya seseorang yang mirip dengan istrinya? Lipatan di kening Sultan bertambah saat otaknya mulai merunut. Saat

