“Dia itu keras kepala, Pa. Dia menolak. Pa … coba Papa bicara sama dia. Dia hanya mau mendengar Papa. Aku sudah punya kandidat yang sesuai kriteria Papa. Cantik dan pintar. Anaknya baik.” “Siapa?” Pramu Atmadja menatap sang menantu dengan sepasang alis yang sudah bergerak. “Namanya Sesa. Dia baru lulus S2 Psikologi.” Pramu Atmadja mengangguk-anggukkan kepala mendengar informasi dari sang menantu. “Tapi ya itu, Pa. Sultan sepertinya sudah buta mata dan hati kalau soal perempuan. Dia sudah benar-benar dibutakan oleh mantan istrinya.” “Memangnya mereka sudah cerai, Ma?” Mariana langsung mengerjap begitu tiga pasang mata terarah padanya. Mariana berdehem. “Maaf,” ujar Mariana, paham arti tatapan mama dan papanya. Dia sudah melewati batas. Dia tidak diperbolehkan ikut dalam percakapan ters

