“Mau jalan-jalan di luar sama Ibu?” tanya Kansa pada sang putra. Wanita itu tersenyum merasakan gerakan mengangguk di bahunya. Dia tahu putranya sedang menahan tangis. “Baiklah. Kita jalan-jaln di luar. Ibu akan mendorong Raja naik sepeda. Bagaimana?” tawar Kansa berusaha menghibur putranya yang baru saja terjatuh. “Tidak dilihat dulu lututnya, Kansa? Mungkin saja lututnya terluka,” cemas Sumi tidak tega melihat sang cucu terjatuh. “Nanti aku lihat, Bu. Harusnya aman karena ada karpet.” Kansa tersenyum menenangkan ibunya yang tampak cemas. Dibanding dirinya, ibunya itu lebih tidak bisa membiarkan apapun terjadi pada Raja. Hanya perkara kecil bisa jadi besar bagi ibunya. Sebenarnya bukan karena Kansa tidak khawatir pada putranya. Tentu saja khawatir. Namun, ia berusaha untuk memberikan e

