“Cepat bersihkan. Pekerjaanmu belum selesai, Babu!” Sultan terpaku di tempatnya. Melihat Kansa berjongkok lalu mengambil pecahan kaca di lantai, diiringi tawa keras dua orang. Pria itu merasakan tarikan dan hembusan napasnya mulai meningkat. Bukan hanya Nabila. Tapi … mamanya. Mamanya tertawa sangat keras seolah pemandangan di depan matanya itu tontonan yang menarik. Dua tangan Sultan sudah mengepal tanpa sang pemilik sadari. “Ambil juga makanannya. Mubazir kalau dibuang. Kamu masih bisa memakannya.” “Makan kue itu, Kansa. Jangan buang-buang uang putraku. Enak sekali kamu menghambur-hamburkan uang putraku, sementara dia yang kerja keras. Ayo … cepat makan.” “Jangan diam saja, Babu. Cepat makan kuenya. Kamu tidak dengar perintah tante Marita? Apa perlu aku yang menjejalkan kue itu ke

