Kansa tidak mengangkat kepalanya. Gadis itu hanya menatap daada Sultan, atau sesekali menoleh—memperhatikan sekitar. Berulang kali gadis itu mengatur tarikan dan hembusan napas. Berusaha untuk membentengi hatinya. Jangan sampai dia terpedaya oleh keromantisan semu yang Sultan lakukan. “Tanggal berapa wisudamu?” Setelah membiarkan suasana di dalam ruangan itu dikuasai oleh lagu romantis yang terdengar memenuhi tempat tersebut, akhirnya Sultan bersuara. Berharap bisa mencairkan suasana yang masih terasa kaku. “Dua puluh.” Kansa menjawab. “Oh … berarti aku akan mengurus keperluanmu berangkat umroh sama ibu setelah tanggal 20.” Sultan tidak lupa keinginan Kansa berangkat ke tanah suci bersama sang ibu. Lagi, Kansa tidak ingin berdebat. Sisa satu bulan akan ia biarkan Sultan merasa puas. Ja

