“Semua keluarga kami sudah datang. Yang belum justru anak dan menantumu, Bang.” Diana, adik Bagus bersuara. “Tunggu … itu bukannya … Nabila?” Bagus Atmadja dan yang lain sontak memutar kepala ke arah tatapan Diana. Sepasang mata Bagus mengecil. “Aku yang mengundangnya. Dia sudah seperti anakku sendiri.” Marita, istri Bagus Atmadja langsung beranjak dari tempat duduknya dengan gerakan anggun. Wanita itu mengangkat tangan kanan kemudian melambai sembari tersenyum lebar. Disambut seperti itu oleh mama Sultan, tentu saja membuat Nabila senang bukan main. Apalagi melihat keluarga papa Sultan sudah berkumpul semua. Ia merasa diterima. Merasa kembali ke masa saat ia masih menjadi calon istri Sultan. Nabila yang terlihat cantik dengan gaun malam berwarna merah menyala itu berjalan anggun seola

