Malam berlalu dengan indah, penuh desahan dan erangan erotis dari kedua insan yang saling melepas rindu. Sampai dini hari hari menjelang, ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur sana, barulah Shaka dan Zivaa tertidur saling berpelukan. Mereka terbangun ketika matahari sudah naik 45 derajat di langit, sinarnya menerobos jendela di apartemen lantai 10 itu, menyinari wajah Zivaa yang tidur berbantalkan lengan berotot milik Shaka. "Ya ampun, sudah siang!" pekiknya seraya beranjak bangun, terkejut melihat langit sudah begitu cerah di luar sana. Shaka terperanjat kaget dan terbangun dari tidurnya, dilihatnya Zivaa berlari ke kamar mandi tanpa sehelai busana selembar pun. Dia tersenyum geli melihatnya. "Istriku!" kekehnya tertawa kecil. Shaka pun beranjak bangun dengan santai, memakai c

