Cahaya pagi menembus tirai tipis apartemen, lembut tapi menusuk mata Arcelia yang baru saja terjaga. Kepalanya terasa berat, tubuhnya masih lelah, tapi aroma roti panggang yang samar-samar menyusup dari arah dapur membuat perutnya bergejolak pelan. Ia bangkit dengan langkah gontai, masih mengenakan pakaian yang kemarin. Matanya bengkak, pipinya masih menyisakan garis tangisan yang semalam tak henti jatuh. Namun, ketika sampai di ruang makan mungil itu, ia mendapati Daniel sedang menuang kopi ke dalam cangkir, wajahnya terlihat tenang seperti biasa. “Pagi,” sapa Daniel singkat, nada suaranya ramah tapi tidak berlebihan. Ia hanya mendorong piring berisi roti dan telur orak-arik ke hadapan Arcelia. “Sarapan dulu. Kamu butuh tenaga.” Arcelia duduk pelan, menunduk, jemarinya meremas ujung ba

