Pagi itu matahari baru saja menembus tirai tipis jendela apartemen. Cahaya keemasan yang jatuh ke lantai kayu seharusnya memberi hangat, tapi bagi Arcelia, rasanya justru menambah sesak di d**a. Ia duduk diam di tepi ranjang, jemarinya memainkan ujung piyama seakan berusaha mencari pegangan di tengah carut-marut pikirannya. Sejak beberapa hari terakhir, hidupnya tidak pernah benar-benar tenang. Setiap sudut yang ia lalui, setiap ruang yang ia masuki, selalu ada jejak kehadiran Dante—meski pria itu tidak pernah benar-benar muncul di hadapannya. Buket bunga yang datang silih berganti, boneka-boneka yang memenuhi ruang tamu apartemen, hingga pesan singkat yang terus berdenting tanpa henti. Semua itu bukan lagi terasa sebagai usaha manis seorang pria yang menyesal. Melainkan teror halus yang

