41 • Malam Panas yang Kedua (21+)

1164 Words

Hujan sama sekali belum reda ketika Dante memasuki gerbang rumah. Lampu teras menyala redup, memantulkan kilau basah di jas hitamnya. Sepatu kulitnya berdecap pelan di lantai marmer saat ia melangkah masuk. Di ruang tamu, Arcelia duduk bersandar di sofa, selimut menutupi tubuhnya. Ia masih terlihat pucat, rambutnya terurai tanpa sempat dirapikan, tapi mata itu langsung terangkat ketika mendengar suara pintu dibuka. “Dante?” suaranya pelan, hampir ragu. Pria itu berjalan menghampiri, tanpa menjawab. Tangannya langsung meraih wajah Arcelia, menangkupnya lembut seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada di sana, hidup, bernapas. Tatapan itu... tatapan seorang pria yang baru saja melewati badai untuk kembali ke rumah. “Aku sudah menemukannya,” kata Dante, suaranya berat tapi terkendali. “O

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD