Udara pagi menjelang siang itu terasa lembap. Jakarta diguyur hujan semalaman, dan kini hanya menyisakan langit kelabu dan embun tipis di kaca jendela. Di lantai 16 sebuah apartemen modern, aroma kopi dan roti panggang menguar hangat dari dapur mungil.
Arcelia membuka pintu kulkas, mengambil s**u, lalu kembali menuangkannya ke mangkuk sereal yang sejak tadi menunggu di atas meja makan. Ia sudah berganti pakaian, dari piyama tidur menjadi sweater tipis warna cokelat muda dan celana pendek di santai. Rambutnya dikuncir seadanya.
Hari ini, ia berencana bersantai seharian. Tidak ada meeting, tidak ada tekanan. Dan terutama ... tidak ada Dante—bosnya yang menyebalkan. Hanya musik dari penyanyi favoritnya yang mengalun dari speaker di sudut ruangan.
Namun, kedamaian itu dirusak oleh suara bel. Arcelia mengerutkan dahi. Siapa yang datang sepagi ini?
Ia berjalan ke pintu dan mengintip lewat lubang kecil. Dan langsung menghela napas panjang.
“Pak Dante?” gumamnya, setengah bingung. Pasalnya, tidak biasanya pria itu mengunjunginya sepagi ini dan emmm ya, sendirian. Biasanya pria itu selalu datang bersama Max karena anak itu yang memintanya. Sisanya, tidak ada, tidak pernah. Ini adalah kali pertama ia datang sendirian.
Apa terjadi sesuatu?
Arcelia kemudian membuka pintu dengan satu tangan masih memegang sendok sereal. “Pak Dante. Ada yang bisa saya bantu di pagi yang seharusnya damai ini, Pak?” ucapnya satire. Yah, bukan Arcelia namanya jika tidak satire atau sarkas, kan?
Dante berdiri di ambang pintu, mengenakan polo hitam berlengan pendek yang menampilkan otot-otot tangannya dan celana jeans gelap. Wajahnya sedikit letih, tapi tetap menyimpan aura dominan yang menyebalkan itu.
“Sebelumnya, boleh saya masuk?” tanyanya, tanpa menunggu jawaban.
Tunggu. Arcelia tidak salah dengar, kan? Kupingnya tidak mendadak error, kan? Seorang Dante Alle Danadyaksa, yang hobinya menyuruh seenaknya, bersikap juga seenaknya, menyebalkan, ucapannya tajam, selalu merasa paling benar, songong, barusan bilang apa? ‘boleh saya masuk’ katanya?
“Pak? Bapak tidak kerasukan malaikat saat perjalanan menuju kemari, kan? Atau tiba-tiba melihat surga dan neraka yang bikin Bapak mendadak mengingat semua dosa-dosa Bapak, kan?”
“Maksud kamu?”
“Ya habisnya Bapak mendadak jadi manusia gini, saya kan jadi bertanya-tanya.”
Dante menaikkan satu alisnya. “Memangnya menurut kamu selama ini saya iblis berkepala dua? Hah?”
“Loh, Bapak tidak sadar, ya?”
Dante memutar bola matanya sesaat. “Arcelia, saya tidak punya waktu untuk berdebat dengan kamu saat ini. Saya ingin bicara jadi, bisa kita masuk dan bicara di dalam?” tatapnya tajam.
Well, her boss is coming back!
Arcelia mengangguk kemudian melangkah mundur. “Emmmm, ok, Silakan.”
Dante melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung duduk di sofa ruang tengah. Ia menyapu apartemen itu dengan tatapan datar, lalu bersandar dengan malas seolah tempat itu miliknya sendiri.
“Wanna tea or coffe, Sir?” tawar Arcelia kemudian.
“Not of both, Ce. Duduklah. Saya hanya ingin waktu kamu,” katanya dengan nada yang ... entahlah Arcelia bahkan tidak berani menebaknya namun ia merasa ada sesuatu yang baru saja terjadi. Something bad?
“Okay.” Arcelia menurut. Ia duduk di ujung sofa miliknya yang berleter L tersebut. “So ... something happend, Pak?” tebaknya.
Dante menjauhkan tubuhnya dari sandaran sofa, duduk tegak dan menatap Arcelia lekat.
“Caluna menghilang.”
Singkat, padat, tapi cukup untuk membuat Arcelia diam beberapa detik. Otaknya berusaha mencerna dengan sangat baik ucapan bossnya barusan. Tapi ...
“Bu Caluna menghilang? Maksud Bapak... menghilang bagaimana?” Ia sama sekali tidak bisa menemukan jawaban yang ... demi apapun ini sangat di luar perkiraan.
Dante menatap lurus. “Pergi. Kabur. Menghilang. Dia ... meninggalkan pesan semalam, menyatakan jika dia tidak pernah mencintai saya, hanya mengincar uang, tidak suka Max, dan tidak pernah benar-benar ingin menikah.”
“Apa?”
Wait, kenapa tiba-tiba ia menjadi sangat to the point begini dan ohh! Apa Dante baru saja curhat? Tapi ... Arcelia menahan napasnya beberapa detik.
“Dan... Bapak ... baik-baik saja?” tanyanya. Pertanyaan itu lolos begitu saja.
Dante mengangkat bahu. “Apakah aku terlihat baik-baik saja?”
Arcelia merutuki pertanyaan spontannya. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak bertanya dan sok peduli, bukan? See, Dante is still Dante. Menyebalkan bahkan di saat seperti ini.
“Tidak. Bapak terlihat seperti pria yang baru saja dibakar habis realita.”
“Bagus. Karena begitulah rasanya.”
Hening sejenak. Lalu Arcelia teringat sesuatu. Ia berkata pelan, “Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahan Bapak? Apa Anda ingin meminta saya untuk menghubungi semua vendor dan membatalkannya?”
“Aku tidak ke sini untuk menyuruhmu itu, Ce.”
“Jadi?”
Dante menatapnya. Tatapan yang membuat jantung Arcelia tidak nyaman. Aneh sekali tatapannya itu. Seperti film horror yang menegangkan.
“Rencana itu akan tetap berjalan,” tuturnya berhasil membuat Arcelia refleks mengerutkan alis.
“Tanpa mempelai wanita? Bagaimana bisa, Pak?”
“Apakah aku mengatakan tanpa mempelai wanita?”
“Oke ... baik ....” Arcelia mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu, “Jangan bilang Bapak kemari untuk menyuruh saya mencari wanita yang bersedia jadi calon pengantin kontrak untuk menggantikan posisi Bu Caluna. Tebakan saya benar?”
“Tidak perlu orang lain, Arcelia.”
“Hah? Maksud Bapak?”
“Kamu. Kamu orangnya.”
Arcelia terdiam beberapa saat. Ia berusaha memahami dan mengerti ucapan bosnya barusan tapi, tidak. Tentu saja tidak bisa! Apakah Dante terlalu desperate sampai tidak bisa mencari solusi lain?
“Excuse me? Saya salah dengar barusan, atau Pak Dante baru saja mengajukan lamaran tanpa bunga, tanpa cincin, tanpa... kewarasan?”
“Saya tidak melamar, Celia. Saya menyampaikan keputusan.”
“Berhenti bercanda, Pak. Keputusan bapak sangat buruk! Mines 100 malah!”
“Saya tidak bercanda. Saya serius.”
Arcelia menggelengkan kepala. “Bapak sudah gila. Sumpah. Bapak ditinggal kabur dan berpikir solusi terbaik adalah tetap menikah? Dengan saya?” Ia menatap Dante seolah pria itu baru saja mengusulkan pindah ke Mars. Berdua.
Mengerikan sekali!
Dante mengangguk, tenang. “Denganmu. Kau tahu semua detail pernikahannya. Kau tahu keluargaku. Kau satu-satunya orang yang tepat untuk menolongku agar tidak membuat kekacauan jadi lebih kacau.”
“Dan apa kata orang-orang kalau Bapak menikah dengan saya dan bukan Bu Caluna? Oh Astagaaa! Pak, saya tidak mau dianggap sebagai perebut!”
“Tapi kamu bukan perebut, Arcelia. Kamu penolong saya.”
“Sialnya, publik tidak tahu itu, Pak Dante!”
Hening sejenak.
“Saya hanya tidak ingin menjadi pihak yang kalah.” Nadanya terdengar pilu, seperti sedang mengakui sesuatu secara tidak langsung.
“Lebih baik dicampakkan daripada menikah pura-pura, Pak. Apalagi hanya untuk memenuhi ego Bapak yang terluka.”
Dante masih belum mengalihkan pandangannya dari Arcelia. Ia tahu ini rumit, namun akal sehatnya terlalu kalah oleh egonya yang liar. Benar kata Arcelia, akan lebih mudah jika menerima kenyataan saja—bahwa ia ditinggalkan tapi, ia tidak mau mundur lagi dan wanita di hadapannya harus membantunya. Harus!
Arcelia berdiri, berjalan ke arah jendela sambil memijit pelipisnya. Ia bersadar di sana. “Bapak sepertinya butuh dokter, deh. Bukan saya.”
Mendengar itu, Dante ikut bangkit, berjalan mendekat ke arah Arcelia dan berdiri tepat di hadapanya. “Kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk peran ini, Arcelia. Satu-satunya yang bisa mengimbangi omong kosong publik yang akan menyusul. Aku tahu kau bisa melakukannya. Membantuku.”
Aku? Sebentar. Arcelia baru menyadarinya. Sejak kapan dia memanggil dirinya sendiri dengan kata “aku”?—Dan oh astaga mengapa Dante berdiri sangat dekat di hadapannya? Ini bahkan terlalu dekat sampai Arcelia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana wajah tampan bossnya dan tubuhnya yang ... emmm sialnya harus Arcelia akui sangat ... sexy.
Sial!
“Jika kau tidak bersedia menolongku, setidaknya, pikirkanlah Max. Dia pasti akan sangat senang jika kau yang menjadi ibunya.”
“Ibu sementara,” ralat Arcelia cepat. “Apa Bapak benar-benar sudah tidak waras?”
“Aku akan urus sisanya, Arcelia. Yang terpenting sekarang adalah kita menikah. Aku ingin Caluna melihatnya. Bahwa dia bukan apa-apa. Bahwa dia bukan siapa-siapa dan dia sangat keliru karena berani mencampakanku.”
“Dan, bagaimana jika Bu Caluna tidak terpengaruh? Bukankah sia-sia saja?”
“Aku tahu Caluna lebih dari siapapun, Celia. Dia mencintaiku. Dan alasan dia pergi, aku tahu ada sesuatu.”
“Kalau begitu kenapa Bapak tidak mencari tahu atau menunggu dia kembali?”
“Dia akan kembali, hanya ketika tahu aku menikah. Itulah kenapa aku butuh bantuanmu, Celia.”
“Untuk mendapatkannya kembali?”
“Tentu saja tidak, bodoh! Aku ingin dia menyadari kesalahannya karena mencampakanku. Aku akan membuatnya cemburu dan mengemis hingga bertekuk lutut menginginkan aku kembali.”
“Jadi, ini tentang harga diri Bapak, benar?”
Dante mengangguk. “Dan kau harus membantuku, Celia.”
“Bagaimana dengan keluarga Bapak? Apa mereka tidak murka dengan rencana tidak masuk akal ini? Setan saja sepertinya murka mendengarnya.”
“Mereka menyerahkan segala keputusannya padaku. Kau hanya perlu berkata iya.”
“Apa keuntungannya untukku?”
Wait, sebentar. Kenapa aku jadi ikut-ikutan menyebut diriku sendiri dengan panggilan ‘aku’?
“Apapun yang kau mau.”
“Termasuk apartemen ini?” Dengan cepat Dante mengangguk. “Aku akan membayarnya lunas untukmu sehingga kau tidak perlu menyicilnya setiap bulan dari gajimu.”
“Lainnya?”
“Kau tinggal bilang. Maka aku akan mengabulkannya.”
“S2—ku?” Lagi. Arrgght Arcelia, apa yang kau lakukan?!
“Sure. Kau akan mendapatkannya segera setelah menandatangani kontrak.”
Arcelia menelan salivanya susah payah. Meski tawaran Dante penuh resiko, namun di waktu yang bersamaan bayarannya sangat menggiurkan. Terutama S2 yang sangat Arcelia impikan.
Sesuatu yang tidak mungkin ia minta kepada orang tuanya setelah ... emmmm, ya, keputusan yang diambilnya. Dan sekarang, ia akan mengambil keputusan yang lebih gila lagi. Oh yang benar saja?!
Astagaa... Aku hanya berharap mereka tidak sungguh-sungguh memecatku dari kartu keluarga setelah ini.
“Dan... kalau aku setuju, berapa lama pernikahan kita akan berlangsung?”
Dante menatapnya penuh keseriusan. “180 hari.”
“Akan kupastikan aku membereskan semuanya sebelum itu dan mengajukan pembatalan pernikahan.”
“Pembatalan pernikahan?”
“Ya. Agar statusmu tetap aman.”
Arcelia menyipitkan matanya. “Itu bisa dilakukan?”
“Tentu. Aku yang akan mengurusnya. Kau tinggal terima hasilnya.”
Seratus delapan puluh hari ... itu artinya kurang lebih 6 bulan ia akan menikah dengan Dante. Arcelia menggigit bibir bawahnya refleks. “No s*x, kan?”
“No. Hanya jika kau berubah pikiran dan menginginkannya.”
“Tidak!”
“Good Choice. Karena aku juga tidak tertarik melakukannya denganmu.”
Dante b******k!
Arcelia menatap lantai apartemennya. “Aku... butuh waktu.”
Dante semakin mendekat dan menutup jarak diantara keduanya. Ia meraih dagu Arcelia dan mengangkatnya pelan. Membuat tatap mereka kembali bertemu.
“Ambillah. Tapi jangan terlalu lama. Aku tunggu keputusanmu satu jam dari sekarang.”
Dante sialan!
🥂